Kawasan WaterFront: Pemanfataan Keindahan Alam untuk Kenyamanan Masyarakat

Saat ini sangat dirasakan bahwa kota-kota besar di Indonesia belum memiliki wahan publik yang memadai. Salah satu kawasan kota yang dapat dijadikan tempat bagi masyarakat berinteraksi adalah kawasan tepi pantai/waterfront. Namun, kawasan ini belum dimanfaatkan secara tepat dan terpadu.
Karena dekat dengan pusat kegiatan perkotaan, kawasan tepi sungai umumnya sangat padat penduduk pendatang dan menjadi kawasan kumuh. Keberadaan perumahan liar dan pemanfatan sungai untuk keperluan sehari-hari mengakibatkan tingginya persoalan perkotaan seperti sampah, air kotor dan persoalan kesehatan lainnya. Dengan kondisi tersebut, kawasan tepi sungai menjadi kumuh dan aliran sungai menjadi tidak lancar. Hal ini menjadi salah satu penyebab banjir tahunan di Jakarta.

Jika dapat dimanfaatkan dengan tepat, kawasan tepi pantai dapat menjadi kawasan terbuka sebagai wahana bagi masyarakat untuk berinteraksi dan menikmati keindahan sungai. Ruang terbuka dapat berupa taman kota untuk menjaga kebersihan udara kota dan memberikan pemandangan hijau maupun taman kota yang dapat dimanfaatkan warga kota untuk berinteraksi.
Kota-kota di Indonesia terutama kota-kota tua telah memiliki alan-alun sebagai kawasan berinteraksi yang dibangun sejak zaman kolonial. Hal ini merupakan contoh bahwa hubungan sosial antar masyarakat telah menjadi salah satu faktor dalam penataan ruang bagi Belanda. Namun saat ini sebagian besar alun-alun tidak dapat dimanfaatkan secara optimal karena berbagai faktor seperti dominasi pedagang informal, kondisi alun-alun yang tidak terawat, ataupun lingkungan sekitar yang tidak memadai bagi masyarakat untuk berinteraksi seperti polusi lalu lintas. Kondisi demikian menyebabkan sulit bagi masyarakat untuk menikmati suasana nyaman di taman, berjalan-jalan santai, maupun melakukan aktivitas rekreasi.

Karakter alami lokasi waterfront yang mengandalkan keindahan pemandangan alam merupakan faktor utama untuk menarik minat publik. Hal ini dapat dilihat di berbagai negara dimana waterfront seringkali merupakan lokasi yang menarik untuk dikunjungi dan berinteraksi. Selain faktor alami, daya tarik waterfront dapat pula ditingkatkan dengan adanya bangunan unik sebagai landmark kota seperti waterfront di Sydey dengan Sydney Opera House atau waterfront di Singapura dengan gedung teater Esplanade.
Berdasarkan pengamatan, kawasan waterfront di luar negeri umumnya sangat dipengaruhi oleh orientasi penataan ruang kota. Sebagai contoh, kawasan pusat kegiatan (Central Business District/CBD) terletak dekat dengan waterfront tersebut. Beberapa kota seperti London, HongKong, Sydney, Melbourne dan Singapura memiliki CBD yang berada di waterfront.
Dengan tingginya kegiatan ekonomi disekitarnya,waterfront harus mampu meningkatkan daya tariknya sehingga data menjadi pemicu kegiatan ekonomi yang lebih besar. Semakin ramai waterfront, akan semakin ramai kegiatan perekonomian seperti pedagang makanan, pedagang suvenir, dan pedagang lainnya. Sehingga waterfront dapt menjadi penggerak perkonomian local.

Meskipun keberadaan waterfront menawarkan berbagai kenyamanan dan keindahan, konsep tersebut tidak dapat langsung diterapkan di Indonesia. Setidaknya ada tiga hal yang perlu diperhatikan yakni karakter fisik tepi sungai, kondisi iklim, dan komitmen untuk melestarikan aset kota.

Jika dilihat dari segi fisik, karakter sungai di wilayah kepulauan sangat kecil untuk dikembangkan sebagai waterfront. Hal yang berbeda apabila berada di wilayah kontinental benua seperti Eropa, Amerika, dan Australia yang dapat mengembangkan waterfront secara optimal beserta sarana wisata. Untuk kasus Indonesia, dapat dilihat di Palembang, meskipun telah dilakukan penataan di sekitar sungai Musi, belum dapat dikatakan waterfront city karena kawasan tepi sungai tidak terlalu luas.

Kondisi iklim Indonesia yang tropis yang menyebabkan suhu relatif panas sehingga mengurangi minat publik untuk berinteraksi di ruang terbuka. Meskipun pepohonan dan pengurangan polusi di sekitar waterfront dapat mengatasi hal ini, orientasi pembangunan yang belum mengutamakan ruang publik mengakibatkan pengembangan kawasan pantai yang tidak optimal

Terakhir adalah komitmen masyarakat dan pemerintah untuk melestarikan lingkungan sekitar beserta bangunan didalamnya. Masyarakat harus turut menjaga lingkungan melalui menjaga kebersihan dan tidak merusak fasilitas umum sehingga waterfront menarik bagi wisatawan. Sedangkan komitmen pemerintah untuk menjamin kegiatan waterfront dapat dilihat dari meningkatkan kemampuan aparat dan adanya peraturan yang mejamin kelancaran kegiatan waterfront. Selain itu, pemerintah perlu menyediakan dana secara berkesinambungan untuk melestarikan dan meningkatkan fasilitas pendukung waterfront. Sebagai contoh, kota Sydney dan London menyediakan kapal ferry agar publik dan turis dapat menikmati waterfront secara optimal.

Advertisements

0 Responses to “Kawasan WaterFront: Pemanfataan Keindahan Alam untuk Kenyamanan Masyarakat”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




September 2008
M T W T F S S
« Aug   Oct »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Categories


%d bloggers like this: